Tampilkan postingan dengan label candi di klaten. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candi di klaten. Tampilkan semua postingan

Candi Sojiwan

Candi Sojiwan terletak di Dukuh Sojiwan, Desa Kebondalem Kidul Kecamatan Prambanan.

candi sojiwan

CANDI SOJIWAN bentuk bangunannya hanya tampak seperti susunan batu tak beraturan yang siap roboh jika tersentuh. Candi Sojiwan, begitu nama bangunan itu, memang belum seterkenal candi lainnya, meski ia berada tak jauh dari komplek Candi Prambanan. Maklum, pemugarannya hingga kini belum rampung.

Candi Sojiwan merupakan sebuah komplek candi Budha. Di lokasi itu terdapat candi induk serta beberapa buah candi perwara atau pendamping. Candi induk menghadap ke arah barat. Dasar candi berbentuk segi empat. Selasar atau teras berada di atas dasar candi, mengelilingi badan candi. Pintu candi memiliki penampil yang menjorok ke depan juga dilengkapi tangga bersayap yang ujungnya relief Kalamakara.

Pada kanan dan kiri tangga terdapat relief. Demikian pula pada dasar candi serta bagian pintu. Umumnya, relief bercirikan candi Budha, antara lain makhluk kerdil dan Kinari-Kinari atau makhluk bersayap penghuni kahyangan. Pada sudut-sudut candi terdapat relief Simbar , yang lainnya adalah Jaladwara atau saluran air.

Badan candi ini berbentuk segi empat. Di dalamnya ada sebuah kamar, tapi belum diketahui apa yang ada di sini, karena belum dipugar. Demikian pula dengan atap candi, belum dipugar hingga kini.


Candi Sojiwan

Di sebelah kanan candi induk, ada sebuah bangunan besar. Dindingnya dari balok batu andesit dan ukurannya cukup tinggi. Diduga bangunan itu bekas vihara, sedangkan beberapa reruntuhan candi perwara yang berukuran kecil terdapat di depan candi induk. Sebuah stupa besar yang diperkirakan stupa induk, kini tengah dipugar.


Candi Sojiwan

Diduga Candi Sojiwan dibangun pada suatu masa, bersama candi-candi lain di sekitarnya, yakni masa Kerajaan Mataram Kuno, dibawah pemerintahan Dinasti Syailendra yang menganut agama Budha. Seperti diketahui, Dinasti Syailendra meninggalkan beberapa candi Budha lain di sekitar Candi Sojiwan, seperti Candi Sewu, Candi Kalasan, Candi Plaosan, dan Candi Plaosan Kidul.

Dalam keadaannya, kini, Candi Sojiwan memang belum menarik perhatian wisatawan. Selain pemugarannya baru sebagian kecil, para ahli purbakala pun belum banyak mempublikasikan sejarahnya. Lain halnya kalau kelak bagian demi bagian dipugar, lingkungan ditata asri, pasti akan menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya. Apalagi letaknya di daerah yang dikenal kaya akan peninggalan candi.
Candi Sojiwan terletak di Dusun Sojiwan, Kelurahan Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jarak dari komplek Candi Prambanan sekitar dua kilometer arah tenggara. Jalan ke lokasi ini bisa dilalui kendaraan beroda empat, tapi belum dilalui kendaraan umum. Wisatawan dari Candi Prambanan bisa menumpang dokar, becak maupun sepeda motor ojek ke lokasi ini.

Candi Plaosan

Candi Plaosan Terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan Kecamatan Prambanan. Jarak dari kota Klaten ± 14 km kearah barat.



Candi Plaosan


Candi Plaosan ini terdiri dari dua kelompok candi yaitu :
- Kelompok candi Plaosan Kidul, kelompok candi ini telah banyak mengalami kerusakan.
- Kelompok candi Plaosan Lor, kelompok candi ini terdiri dari dua buah candi induk yang dikelilingi oleh 116 buah stupa perwara dan 50 buah candi perwara. Candi induk Plaosan Lor dipugar pada tahun 1962 oleh Dinas Purbakala. Didalam kamar candi Induk terdapat 6 buah arca Dhyani Budisatwa antara lain :
- Awalokiteswara;
- Wajrapani;
- Padmapani;
- Berdasarkan prasasti pendek yang dipahatkan pada perwara mungkin candi Plaosan dibangun atas kerjasama antara Raja Pikatan dan Cri Kahulunan. Perpaduan antara Budha dan Hindhu.
- Bertitik tolak dari hal tersebut diatas, maka diperkirakan candi Plaosan dibangun pada abad ke IX AD (After Date).
- Candi Induk menghadap ke barat.
- Luas areal candi ± 4.529,06 m2
- Fungsi : sebagai obyek wisata peninggalan benda bersejarah dan upacara keagamaan agama Budha.


sumber : http://www.wisatanesia.com/2010/05/candi-plaosan-klaten.html








Candi Bubrah


Candi Bubrah

Terletak di Dukuh Klurak, Desa Tlogo Kecamatan Prambanan Klaten.

Candi ini terletak disebelah utara Candi Lumbung ± 300 m, nama Bubrah mungkin diambil dari keadaan candinya yang sudah bubrah atau rusak.
Masa pendiriannya sama dengan candi Sewu pada abad XI Candi Induk menghadap ke timur.
Jarak dari kota Klaten ± 14 km kearah barat.

Dinamakan Bubrah karena memang keadaannya rusak (bubrah dalam bahasa Jawa) sejak pertama kali ditemukan. Menurut perkiraan, candi ini dibangun pada abad ke-9 pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, satu periode dengan candi Sewu.

Candi ini mempunyai ukuran 12 m x 12 m terbuat dari jenis batu andesit, dengan sisa reruntuhan setinggi 2 meter saja. Saat pertama kali ditemukan masih terdapat beberapa patung Buddha, walaupun tidak utuh lagi.

Luas areal candi 343,80 m2
Fungsi sebagai obyek wisata peninggalan bersejarah
Pengunjung rata rata ± 53 orang tiap bulan





sumber : http://pariwisata.solonet.co.id
              http://id.wikipedia.org/


 
Candi Lumbung Terletak di Dukuh Tlogo, Desa Tlogo Kecamatan Prambanan. Candi Lumbung BerJarak dari kota Klaten ± 15 km kearah barat. Candi Lumbung terdiri dari sebuah candi induk yang dikelilingi oleh 16 candi Perwara.
Candi induk ini menghadap ke timur, berkamar kosong dan atapnya berbentuk Stupa.

Luas areal candi 545,35 m2
Fungsi sebagai obyek wisata peninggalan bersejarah
Pengunjung rata rata ± 2.000 orang tiap bulan.


sumber : www.wisatanesia.com

candi sewu

CANDI SEWU terletak di dukuh Bener, desa Bugisan, kecamatan Prambanan, kabupaten Klaten, propinsi Jawa Tengah. Dahulu candi ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk yang cukup padat. Yang sekarang sebagian telah dikosongkan untuk lokasi Taman Wisata Candi Borobudur-Prambanan Unit Prambanan. Dengan demikian Candi Sewu kini berada dalam lingkungan Taman Wisata Unit Prambanan, tepatnya disebelah utara Candi Prambanan. Candi ini terletak sekitar delapan belas kilometer di sebelah timur kota Yogyakarta .

Candi Sewu merupakan kompleks candi berlatar belakang agama Buddha terbesar di Jawa tengah di samping Borobudur, yang di bangun pada akhir abad VIII M. Ditinjau dari luas dan banyaknya bangunan yang ada di dalam kompleks, diduga Candi Sewu dahulu merupakan candi kerajaan dan salah satu pusat kegiatan keagamaan yang cukup penting pada jamannya. Sedangkan dilihat dari lokasi, letak Candi Sewu yang tidak jauh dari Candi Prambanan, menunjukkan bahwa pada saat itu dua agama besar dunia yaitu Hindu dan Buddha berdampingan secara damai.

candi sewu


Pada tahun 1960, di kompleks Candi Sewu telah ditemukan prasasti berangka tahun 714 c atau 792 M, yang isinya antara lain menyebutkan adanya penyempurnaan bangunan suci yang bernama Manjus'rigra. Berdasarkan prasasti tersebut, diduga nama asli Candi Sewu adalah Manjus'rigra yang artinya rumah Manjusri, Yaitu salah satu Boddhisatawa dalam agama Buddha. Mengenai tahun pendirian bangunan tersebut sampai saat ini belum diketahui secara pasti, namun tentunya sebelum tahun 792 M yang diketahui sebagai tahun penyempurnaan bangunan. Prasasti Kelurak yang berangka tahun 782 M yang ditemukan di dekat Candi Lumbung yakni beberapa ratus meter dari Candi Sewu, menurut R. Soekmono dihubungkan dengan Candi Sewu. Prasasti-prasasti tersebut tidak menyebutkan secara jelas nama raja yang memerintahkan membuat bangunan suci tersebut. Meskipun demikian dari data lain diduga Candi Sewu mulai didirikan pada akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran, seorang raja besar dari kerajaan Mataram kuno yang memerintah tahun 746-784 M. 

Candi Sewu merupakan sebuah bangunan yang cukup luas, yang didalamnya terdapat 249 buah bangunan terdiri atas satu Candi Induk,delapan Candi Apit, dan 240 Candi Perwara. Berdasarkan temuan fondasi pagar di sebelah timur kompleks Candi Sewu pada tahun 194, diduga kompleks Candi Sewu dahulu terbagi dalam tiga halaman yang masing-masing dipisahkan oleh pagar keliling. Candi induk terletak pada halaman pertama yang dibatasi oleh pagar keliling setinggi delapan lima centimeter, dan berdenah persegi empat (40x41 meter). Denah bangunan utama candi berbentuk palang bersudut 20 dengan garis tengah dua delapan koma sembilan meter. 

Candi Induk Sewu mempunyai bilik utama (bilik tengah) dan empat buah bilik penampil. Masing-masing bilik penampil mempunyai pintu masuk. Pintu masuk sebelah timur sekaligus berfungsi sebagai pintu masuk utama menuju bilik tengah. Dengan demikian Candi Induk Sewu menghadap ke timur. 

Candi Perwara dan candi Apit seluruhnya terdapat pada halaman kedua. Candi Perwara disusun dalam empat deret membentuk empat persegi panjang yang konsentris. Pada deret I terdapat 2 bangunan, deret II 44 bangunan, deret III delapan puluh bangunan, dan deret IV terdapat delapan puluh delapan bangunan. Seluruh Candi Perwara yang berada pada deret I, II Dan IV mempunyai orientasi keluar (membelakangi Candi Induk), sedangkan deret III mempunyai orientasi kedalam (menghadap Candi Induk), Candi Apit terletak di antara Candi Perwara deret II dan III, masing-masing sepasang di setiap penjuru. Kedudukan setiap pasang Candi Apit mengapit jalan yang membelah halaman ke dua tepat pada sumbu-sumbunya. Delapan Candi Apit tersebut mempunyai orientasi ke jalan yang membelah halaman kedua. Pada keempat ujung jalan di dekat pagar halaman ke dua, masing-masing terdapat sepasang arca Dwarapala ukuran raksasa. Tinggi arca kurang lebih 229,5 cm dan ditempatkan diatas lapik persegi setinggi kurang lebih 111 cm. Pintu dan pagar keliling halaman kedua yang terbuat dari batu putih pada saat ini dalam keadan runtuh. Namun berdasarkan reuntuhannya dapat diketahui bahwa pagar keliling halaman ke dua halaman ini berukuran kurang lebih seratus tujuh puluh meter kali seratus delapan puluh tujuh meter. 

Candi Sewu secara vertikal dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh dan atap candi. Seluruh bangunan terbuat dari batu andesit kecuali inti bangunannya yang terbuat dari tatanan bata merah yang membentuk kubus. Struktur bata merah berbentuk kubus ini tidak dapat dilihat dari luar karena letaknya berada di dalam bangunan. Pada kaki candi terdapat sederetan hiasan relief yang menggambarkan motif purnakalasa atau hiasan jambangan bunga, juga "arca" singa pada setiap sudut pertemuan antara kaki dan struktur tangga. Selain itu pada sisi luar pipi tangga yang ujungnya berbentuk makara, terdapat relief yang menggambarkan seorang yaksa, kalpawrksa, dan jambangan bunga berbentuk sankha. 

Dinding tubuh candi membagi bangunan menjadi 13 bagian yaitu satu bangunan tengah, empat lorong, empat selasar dan empat penampil. Setiap penampil mempunyai pintu ke luar dan pintu penghubung dengan lorong, sedangkan lorong-lorong tersebut juga mempunyai pintu penghubung dengan selasar di kanan kirinya. Khusus pada lorong timur terdapat pintu penghubung dengan bilik tengah. Di dalam bilik tengah terdapat sebuah asana lengkap dengan sandaranyya yang ditempatkan merapat ke dinding barat ruangan. Diduga asana tersebut dahulu diisi Arca Manjus'ri yang tingginya kurang lebih 360 cm. Sedangkan setiap bilik penampil diduga dahulu berisi enam arca yang diletakkan dalam enam relung, masing-masing tiga relung, masing-masing tiga relung berjajar di dinding kanan dan kiri. Hiasan-hiasan yang ada pada tubuh candi antara lain :
  • Kala makara pada ambang pintu-pintunya.
  • Relief seorang dewa yang duduk dalam posisi vajrasana, kepalanya dikelilingi rangkaian api (siracakra) sebagai lambang Kedewaan. Relief ini terdapat di bawah kala.
  • Relief-relief yang menggambarkan beberapa penari dan pemain kendang, terdapat pada dinding luar pagar langkan. Gana (makhluk kayangan yang digambarkan seperti orang cebol) terdapat pada sudut-sudut bangunan.
Candi Induk Sewu mempunyai sembilan atap yang terdiri atas empat atap penampil, empat atap lorong, dan satu atap bilik utama, yang semua puncaknya berbentuk stupa. Atap bilik utama merupakan atap yang paling besar dan paling tinggi yang terdiri dari tiga tingkatan. Hiasan-hiasan yang ada pada atap candi antara lain pilaster-pilaster, relung-relung, dan antefik-antefik berhias dewa dan motif tumbuh-tumbuhan. Di dekat candi Sewu terdapat candi-candi maupun situs-situs yang kurang terpelihara. Sebagian candi maupun situs ini sudah tinggal reruntuhan. 

sumber : candidiy.tripod.com
 

Instructions

Recomended